Kamis, 28 Desember 2017

TUGAS SOFTSKILL
MAKALAH PERTUMBUHAN PENDUDUK INDONESIA

Disusun oleh : musa keke
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Swt. karena berkat rahmat dan karunianya saya telah menyelesaikan sebuah makalah tentang Pertumbuhan penduduk indonesia. Shalawat serta salam tak lupa saya sampaikan kepada junjungan kita nabi Muhammad Saw.
            Saya membuat makalah ini dalam rangka untuk menambah wawasan saya dan pembaca, disini saya akan membahas banyak hal tentang pertumbuhan penduduk . Oleh karena itu saya mengajak anda untuk membaca dan mempelajari berbagai hal tentang pertumbuhan penduduk indoneisa yang saya kaji dalam makalah ini. Semoga makalah yang saya sajikan dapat memberikan tambahan wawasan bagi pembaca. 

 DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

1.     PERKEMBANGAN PENDUDUK INDONESIA
1.1.         Landasan Perkembangan Penduduk Indonesia
1.2.         Pertambahan Penduduk dan Lingkungan Pemukiman
1.3.         Pertumbuhan Penduduk dan Tingkat Pendidikan
1.4.         Pertumbuhan Penduduk dan Penyakit yang Berkaitan dengan Lingkungan Hidup
1.5.         Pertumbuhan Penduduk dan Kelaparan
1.6.         Kemiskinan dan keterbelakangan




BAB II
PEMBAHASAN

         1.    PERKEMBANGAN PENDUDUK INDONESIA
          1.1.                     Landasan Perkembangan Penduduk Indonesia
Pertumbuhan penduduk adalah perubahan populasi sewaktu-waktu, dan dapat dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu dalam sebuah populasi menggunakan "per waktu unit" untuk pengukuran. Sebutan pertumbuhan penduduk merujuk pada semua spesies, tapi selalu mengarah pada manusia, dan sering digunakan secara informal untuk sebutan demografi nilai pertumbuhan penduduk, dan digunakan untuk merujuk pada pertumbuhan penduduk dunia. Dalam demografi dan ekologi, nilai pertumbuhan penduduk (NPP) adalah nilai kecil dimana jumlah individu dalam sebuah populasi meningkat. NPP hanya merujuk pada perubahan populasi pada periode waktu unit, sering diartikan sebagai persentase jumlah individu dalam populasi ketika dimulainya periode. Cara yang paling umum untuk menghitung pertumbuhan penduduk adalah rasio, bukan nilai. Perubahan populasi pada periode waktu unit dihitung sebagai persentase populasi ketika dimulainya periode.
Seluruh dunia pasti meningkat pertumbuhan penduduknya, begitu pula diIndonesia tercinta ini. Dari hasil sensus penduduk tahun 2010 jumlah penduduk Indonesia adalah 289,4 juta. Berarti Indonesia termasuk negara terbesar ke tiga di antara negara-negara yang sedang berkembang setelah Cina dan India.Dibanding dengan jumlah sensus tahun 1990 maka akan terlihat peningkatan penduduk Indonesia rata-rata 1,98% pertahun. Berdasarkan hasil proyeksi penduduk, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2015 sebanyak 315,3 juta jiwa. Bila dilihat dari luas wilayah pada peta penyebaran penduduknya terlihat tidak merata di 34 propinsi. Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 1990 sekitar 60% penduduk tinggal di pulau Jawa, padahal luas pulau Jawa hanya 7% dari luas wilayah Indonesia. Dilain pihak pulau Kalimantan yang luas wilayahnya hanya ditempati oleh 5% dari jumlah penduduknya. Kondisi tersebut menunjukan bahwa kepadatan penduduk Indonesia tidak seimbang. Kondisi tersebut memerlukan upaya pemerataan dan upaya tersebut telah dilaksanakan melalui program transmigrasi dan gerakan kembali ke Desa. Dilihat dari tingkat pertambahan penduduknya Indonesia masih tergolong tinggi, hal ini bila tidak diupayakan pengendalianya akan menimbulkan banyak masalah. Di Indonesia dari tingkat partisipasi anak usia sekolah baru mencapai 53% meskipun wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun telah dicanangkan oleh pemerintah. Dibanding negara tetangga, tingkat partisipasi pendidikan kita tergolong rendah. Hongkong misalnya tahun 1995 telah mencapai 95%, Korea Selatan 88% dan Singapura telah mencapai 95 %.



          1.2.                     Pertambahan Penduduk dan Lingkungan Pemukiman
Dengan jumlah total populasi sekitar 250 juta penduduk, Indonesia adalah negara berpenduduk terpadat nomor empat di dunia. Komposisi etnis di Indonesia amat bervariasi karena negeri ini memiliki ratusan ragam suku dan budaya. Meskipun demikian, lebih dari separuh jumlah penduduk Indonesia didominasi oleh dua suku terbesar.
Dua suku terbesar ini adalah Jawa (41 persen dari total populasi) dan suku Sunda (15 persen dari total populasi). Kedua suku ini berasal dari pulau Jawa, pulau dengan penduduk terbanyak di Indonesia yang mencakup sekitar enam puluh persen dari total populasi Indonesia. Jika digabungkan dengan pulau Sumatra, jumlahnya menjadi 80 persen total populasi. Ini adalah indikasi bahwa konsentrasi populasi terpenting berada di wilayah barat Indonesia. Propinsi paling padat adalah Jawa Barat (lebih dari 43 juta penduduk), sementara populasi paling lengang adalah propinsi Papua Barat di wilayah Indonesia Timur (dengan populasi hanya sekitar 761,000 jiwa).


Peta Indonesia
Lima Propinsi dengan Populasi Tertinggi (dalam jutaan)
     Propinsi
       Populasi
1.  Jawa Barat
         43.1
2.  Jawa Timur
         37.5
3.  Jawa Tengah
         32.4
4.  Sumatra Utara
         13.0
5.  Banten (Jawa)
         10.6
Sumber: Badan Pusat Stastik, Population Census 2010
Bagian ini membahas beberapa aspek penting menyangkut komposisi demografi Indonesia. Topik-topik yang dibahas antara lain pertumbuhan populasi Indonesia, struktur usia dan urbanisasi. Semua topik ini adakan dihubungkan dengan kinerja perekonomian Indonesia.



PERTUMBUHAN POPULASI INDONESIA
         Tingkat pertumbuhan populasi Indonesia antara tahun 2000 dan 2010 adalah sekitar 1.49 persen per tahun. Pertumbuhan tertinggi terjadi di propinsi Papua (5.46 persen), sementara pertumbuhan populasi terendah terjadi di propinsi Jawa Tengah (0.37 persen). Program Keluarga Berencana (KB) dikoordinasi oleh institusi pemerintah, yaitu Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Program KB dimulai pada tahun 1968 semasa pemerintahan presiden Suharto dan sampai saat ini masih diteruskan oleh presiden2 penerusnya. Program ini adalah strategi penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia karena pertumbuhan populasi yang rendah akan menyebabkan tingkat PDB per kapita yang lebih tinggi, yang juga akan meningkatkan pendapatan, tabungan, investasi serta menurunkan tingkat kemiskinan. Pertumbuhan populasi diperkirakan sebesar sekitar 1.04 persen pada tahun 2012.
Menurut proyeksi yang dilakukan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan menilik populasi absolut Indonesia di masa depan, maka negeri ini akan memiliki penduduk lebih dari 250 juta jiwa pada tahun 2015, lebih dari 270 juta jiwa pada tahun 2025, lebih dari 285 juta jiwa pada tahun 2035 dan 290 juta jiwa pada tahun 2045. Baru setelah 2050 populasi Indonesia akan berkurang. Menurut proyeksi PBB pada tahun 2050 dua pertiga populasi Indonesia akan tinggal di wilayah perkotaan. Sejak 40 tahun yang lalu Indonesia sedang mengalami sebuah proses urbanisasi yang pesat makanya sekarang sekitar separuh dari jumlah total penduduk Indonesia tinggal di wilayah perkotaan. Proses ini menunjukkan perkembangan positif bagi perekenomian Indonesia karena urbanisasi dan industrialisasi akan membuat pertumbuhan ekonomi lebih maju dan menjadikan Indonesia negeri dengan tingkat pendapatan menengah ke atas.

    1995
    2000
    2005
    2010
    2050
 Populasi Rural
 (persentase populasi total)
      64
      58
      52
      46
      33¹
 Populasi Kota
 (persentase populasi total)
      36
      42
      48
      54
      67¹
Sumber: Bank Dunia
   ¹ Perkiraan PBB
Oleh karena melesatnya pertambahan penduduk maka dari itu terpengaruh lah kedalam lingkungan pemunkiman yang padat dan tidak teratur, menurut saya pemukiman diIndonesia beragam tipe, dari pemukiman padat penduduk yang tiap rumah tiap rumah hampir tidak mempunyai halaman masing-masing, jarak antar tetangga hanya dibatasi oleh tembok saja dan aksesnya pun harus melalui gang yang sempit , contohnya seperti dijakarta saat ini yang menurut saya sudah padat sekali. Lalu kemudian pemukiman yang mulai ramai contohnya di tempat tinggal saya, yang dahulu merupakan tempat yang sepi dan masih banyak sekali kebun hutan yang pada akhir-akhir ini sudah mulai padat, dikarenakan sawah – sawah disana banyak yang dialh fungsikan menjadi kontrakan ataupun rumah-rumah, yang pada akhirnya menimbulkan limbah rumah tangga yang kotor sehingga sawah disekitarnyapun ikut tercemar lalu pemilik sawah berpasrah dengan menjual sawahnya untuk dijadikan pemukiman. Dan sampai saat ini anak – anak jaman sekarang disana sulit sekali untuk menemukan lahan untuk bermain dan membutuhkan lapangan yang luas. Yang ketiga, pemukiman yang masih sangat asri contohnya didaerah luar pulau jawa, yang tingkat kependudukannya masih sepi dan mata pencahariannya masih bercocok tanam, udaranya sejuk, masih sederhana. Berbeda sekali dengan pemukiman atau residences perumahan – perumahan elit yang gaya arsitektur modern, yang bertempat tinggal disana memntingkan keperluan pribadi, atau menjalani hdiup dengan sendiri- sendiri, tidak ada sosialisasi antar tetangga. Yang terakhir adalah pemukiman kumuh yang contohnya berada dibantaran sungai atau pinggir rel kereta api yang membangun rumah seadanya tidak mendapatkan izin dari pemerintah, dan dilihatnyapun tidak indah sama sekali, ini merupakan PR tersendiri untuk pemerintah bertindak tegas dan adil untuk masalah ini.

          1.3.                     Pertumbuhan Penduduk dan Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan disuatu daerah difaktorkan oleh tingkat pertumbuhan penduduknya juga, karena jika pertumbuhan penduduk yang sangat pesat sulit untuk mengatur dan mengelola siswa –siswa yang ingin mengenyam pendidikan, maka dari itu pertumbuhan penduduk harus didampingi oleh pembangunan sekolah – sekolah dan banyaknya tenaga pengajar untuk pendidikan. Disamping hal itu pemerintah harus sudah matang menyiapkan strategi sistem pembelajaran yang efektif dan terpusat agar setiap siswa memperoleh standar pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah. Tenaga pengajar yang professional sangat diperlukan untuk jalannya belajar mengajar dan tenaga pengajar yang berpengalaman dalam memulai bimbingan belajar.

         1.4.                     Pertumbuhan Penduduk dan Penyakit yang Berkaitan Dengan Lingkungan Hidup.
Sudah saya bahas sebelumnya, dengan tingkat pertumbuhan kependudukan yang tinggi memicu resiko banyaknya terjangkit penyakit yang ringan sampai yang berat. Mengapa demikian, karena dari keteledoran manusia itu sendiri yang tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan, misalnya dari hal kecil saja membuang sampah ke sungai menyebabkan banjir dijakarta dan bermukim dibantaran sungai yang menyebabkan sungai menjadi sempit, maka terjadilah banjir dan banjir itu membawa banyak sekali penyakit seperti penyakit kulit, diare, DBD, malaria, dan masih banyak lagi. Belum lagi terbatasnya fasilitas – fasilitas yang tidak memadai yang kotor menimbulkan banyak penyakit.
Padatnya penduduk menjadi faktor utama tidak adanya lahan untuk fasilitas-fasilitas umum seperti taman, tempat bermain anak, dll menyebabkan anak pada akhir ini lebih suka bermain dirumah (game) dan hp dibandingkan beramain diluar. Padatnya kotapun jadi topik utama dalam hal ini, gas emisi pembuangan kendaraan bermotor menyebabkan CO2 meningkat dan limbah industri mengancam penipisan lapisan ozon yang menyebabkan efek rumah kaca atau radiasi matahari yang kuat menjadi bencana untuk umat manusia. Penyakit yang timbul adalah TBC, Paru – paru basah, gangguan saluran pernapasan, infuenza dll.

          1.5.                     Pertumbuhan Penduduk dan Kelaparan
Dari segi ekonomi dan gizi pertambahan penduduk dan pemerataan dana bantuan pemerintah jika tidak tepat pada sasaran menyebabkan masalah serius pada masyarakat yang benar-benar membutuhkan dana bantuan untuk kehidupan sehari-hari maupun balita mereka yang sangat butuh akan gizi setimbang. Dari mulai banyaknya penduduk dan lahan pekerjaan yang sedikit menyebabkan pengangguran yang hebat belum lagi masalah ekonomi negara seperti dollar yang terus meningkat dan terus menerus turunnya nilai tukar rupiah itu mengakibatkan perusahaan –perusahaan swasta yang terpaksa memcat para pegawainya karena pemasukan dan pengeluaran tidak stabil, belum lagi tingkat pendidikan yang rendah menjadi alasan utama masyarakat untuk mencari pekerjaan yang layak untuk mereka. Dari situlah muncul penyakit baru, mental masyarakat yang bergantung pada dana bantuan ataupun sosialisasi dari pihak – pihak yang menyalurkan bantuan, mereka jadi malas dan hanya meminta-minta saja. Berbeda dengan keluarga dari kalangan tidak mampu yang sudah mempunyai keluaga dan benar membutuhkan bantuan sedangkan keluarga dan anak-anak mereka sedang mengalami kelaparan apalagi anaknya yang sedang terjangkit gizi buruk. Hal inipun menjadi pr tersendiri untuk pemerintah dalam menangani kasus ini.

          1.6.                     Kemiskinan dan Keterbelakangan
Dari topik yang saya bahas diatas tadi, tingkat pendidikan yang rendah, tingkat pengangguran yang tinggi dan tidak meratanya dana bantuan ataupun APBN yang sudah direncanakan dan sudah cair namun dana tersebut menajdi dana siluman dan tidak mencapai target yang dituju. Hal itu menjadi dasar kemiskinan didunia termasuk diIndonesia yang tingkat pendapatan perkapitanya digolongkan rendah. Itu membuktikan bahwa sistem pemerintahan dinegara tersebut mengalami keterbelakangan. Belum lagi pejabat yang lebih mementingkan urusan pribadinya ketimbang masyarakat padahala mereka adalah wakil dari rakyat yang secara langsung mempunyai jabatan tetapi sikap dan perilaku mereka lebih keji dari seorang pemfitnah dan pembunuh. Maka dari itu mental untuk para pemimpin harus dibentuk lebih dalam lagi agar menjadi pemimpin yang arif dan taat pada aturan dan perundang-undangan. Tidak bisa dielakkan lagi kemiskinan menjadi dasar keterbelakangan suatu negara dan menjadi bukti sistem pemerintahan yang bobrok.
















DAFTAR PUSTAKA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RISC DAN PIPELINING

A. RISC ( Reduced Instruction Set Computer )           RISC singkatan dari Reduced Instruction Set Computer. Merupakan bagian dari a...