TUGAS SOFTSKILL
MAKALAH PERTUMBUHAN PENDUDUK INDONESIA
Disusun oleh : musa
keke
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita
panjatkan kepada Allah Swt. karena berkat rahmat dan karunianya saya telah
menyelesaikan sebuah makalah tentang Pertumbuhan penduduk indonesia. Shalawat
serta salam tak lupa saya sampaikan kepada junjungan kita nabi Muhammad Saw.
Saya membuat makalah ini dalam rangka untuk menambah wawasan saya dan pembaca,
disini saya akan membahas banyak hal tentang pertumbuhan penduduk . Oleh karena
itu saya mengajak anda untuk membaca dan mempelajari berbagai hal tentang pertumbuhan
penduduk indoneisa yang saya kaji dalam makalah ini. Semoga makalah yang saya
sajikan dapat memberikan tambahan wawasan bagi pembaca.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
1. PERKEMBANGAN PENDUDUK
INDONESIA
1.1. Landasan Perkembangan
Penduduk Indonesia
1.2. Pertambahan Penduduk
dan Lingkungan Pemukiman
1.3. Pertumbuhan Penduduk
dan Tingkat Pendidikan
1.4. Pertumbuhan Penduduk
dan Penyakit yang Berkaitan dengan Lingkungan Hidup
1.5. Pertumbuhan Penduduk
dan Kelaparan
1.6. Kemiskinan dan
keterbelakangan
BAB II
PEMBAHASAN
1. PERKEMBANGAN PENDUDUK INDONESIA
1.1. Landasan Perkembangan Penduduk Indonesia
Pertumbuhan penduduk adalah perubahan populasi
sewaktu-waktu, dan dapat dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu dalam
sebuah populasi menggunakan "per waktu unit" untuk pengukuran. Sebutan
pertumbuhan penduduk merujuk pada semua spesies, tapi selalu mengarah pada
manusia, dan sering digunakan secara informal untuk sebutan demografi nilai
pertumbuhan penduduk, dan digunakan untuk merujuk pada pertumbuhan penduduk
dunia. Dalam demografi dan ekologi, nilai pertumbuhan penduduk (NPP) adalah
nilai kecil dimana jumlah individu dalam sebuah populasi meningkat. NPP hanya
merujuk pada perubahan populasi pada periode waktu unit, sering diartikan
sebagai persentase jumlah individu dalam populasi ketika dimulainya periode.
Cara yang paling umum untuk menghitung pertumbuhan penduduk adalah rasio, bukan
nilai. Perubahan populasi pada periode waktu unit dihitung sebagai persentase
populasi ketika dimulainya periode.
Seluruh dunia pasti meningkat pertumbuhan
penduduknya, begitu pula diIndonesia tercinta ini. Dari hasil sensus penduduk
tahun 2010 jumlah penduduk Indonesia adalah 289,4 juta. Berarti Indonesia
termasuk negara terbesar ke tiga di antara negara-negara yang sedang berkembang
setelah Cina dan India.Dibanding dengan jumlah sensus tahun 1990 maka akan
terlihat peningkatan penduduk Indonesia rata-rata 1,98% pertahun. Berdasarkan
hasil proyeksi penduduk, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2015 sebanyak
315,3 juta jiwa. Bila dilihat dari luas wilayah pada peta penyebaran
penduduknya terlihat tidak merata di 34 propinsi. Berdasarkan hasil sensus
penduduk tahun 1990 sekitar 60% penduduk tinggal di pulau Jawa, padahal luas
pulau Jawa hanya 7% dari luas wilayah Indonesia. Dilain pihak pulau Kalimantan
yang luas wilayahnya hanya ditempati oleh 5% dari jumlah penduduknya. Kondisi
tersebut menunjukan bahwa kepadatan penduduk Indonesia tidak seimbang. Kondisi
tersebut memerlukan upaya pemerataan dan upaya tersebut telah dilaksanakan
melalui program transmigrasi dan gerakan kembali ke Desa. Dilihat dari tingkat
pertambahan penduduknya Indonesia masih tergolong tinggi, hal ini bila tidak
diupayakan pengendalianya akan menimbulkan banyak masalah. Di Indonesia dari
tingkat partisipasi anak usia sekolah baru mencapai 53% meskipun wajib belajar
pendidikan dasar 9 tahun telah dicanangkan oleh pemerintah. Dibanding negara
tetangga, tingkat partisipasi pendidikan kita tergolong rendah. Hongkong
misalnya tahun 1995 telah mencapai 95%, Korea Selatan 88% dan Singapura telah
mencapai 95 %.
1.2. Pertambahan Penduduk dan Lingkungan Pemukiman
Dengan jumlah total populasi sekitar 250 juta
penduduk, Indonesia adalah negara berpenduduk terpadat nomor empat di dunia.
Komposisi etnis di Indonesia amat bervariasi karena negeri ini memiliki ratusan
ragam suku dan budaya. Meskipun demikian, lebih dari separuh jumlah penduduk
Indonesia didominasi oleh dua suku terbesar.
Dua suku terbesar ini adalah Jawa (41 persen
dari total populasi) dan suku Sunda (15 persen dari total populasi). Kedua suku
ini berasal dari pulau Jawa, pulau dengan penduduk terbanyak di Indonesia yang
mencakup sekitar enam puluh persen dari total populasi Indonesia. Jika
digabungkan dengan pulau Sumatra, jumlahnya menjadi 80 persen total populasi.
Ini adalah indikasi bahwa konsentrasi populasi terpenting berada di wilayah
barat Indonesia. Propinsi paling padat adalah Jawa Barat (lebih dari 43 juta
penduduk), sementara populasi paling lengang adalah propinsi Papua Barat di
wilayah Indonesia Timur (dengan populasi hanya sekitar 761,000 jiwa).
Peta Indonesia
Lima Propinsi dengan
Populasi Tertinggi (dalam jutaan)
|
Propinsi
|
Populasi
|
|
1. Jawa Barat
|
43.1
|
|
2. Jawa Timur
|
37.5
|
|
3. Jawa Tengah
|
32.4
|
|
4. Sumatra
Utara
|
13.0
|
|
5. Banten
(Jawa)
|
10.6
|
Sumber:
Badan Pusat Stastik, Population Census 2010
Bagian ini membahas beberapa aspek penting menyangkut komposisi
demografi Indonesia. Topik-topik yang dibahas antara lain pertumbuhan populasi
Indonesia, struktur usia dan urbanisasi. Semua topik ini adakan dihubungkan
dengan kinerja
perekonomian Indonesia.
PERTUMBUHAN
POPULASI INDONESIA
Tingkat pertumbuhan populasi Indonesia antara tahun 2000 dan 2010 adalah
sekitar 1.49 persen per tahun. Pertumbuhan tertinggi terjadi di propinsi Papua
(5.46 persen), sementara pertumbuhan populasi terendah terjadi di propinsi Jawa
Tengah (0.37 persen). Program Keluarga Berencana (KB) dikoordinasi oleh
institusi pemerintah, yaitu Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN). Program KB dimulai pada tahun 1968 semasa pemerintahan presiden
Suharto dan sampai saat ini masih diteruskan oleh presiden2 penerusnya. Program
ini adalah strategi penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia karena
pertumbuhan populasi yang rendah akan menyebabkan tingkat
PDB per kapita yang
lebih tinggi, yang juga akan meningkatkan pendapatan, tabungan, investasi serta
menurunkan tingkat kemiskinan. Pertumbuhan populasi diperkirakan sebesar
sekitar 1.04 persen pada tahun 2012.
Menurut proyeksi yang dilakukan oleh Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) dengan menilik populasi absolut Indonesia di masa depan,
maka negeri ini akan memiliki penduduk lebih dari 250 juta jiwa pada tahun
2015, lebih dari 270 juta jiwa pada tahun 2025, lebih dari 285 juta jiwa pada
tahun 2035 dan 290 juta jiwa pada tahun 2045. Baru setelah 2050 populasi
Indonesia akan berkurang. Menurut proyeksi PBB pada tahun 2050 dua pertiga
populasi Indonesia akan tinggal di wilayah perkotaan. Sejak 40 tahun yang lalu
Indonesia sedang mengalami sebuah proses urbanisasi yang pesat makanya sekarang
sekitar separuh dari jumlah total penduduk Indonesia tinggal di wilayah
perkotaan. Proses ini menunjukkan perkembangan positif bagi perekenomian
Indonesia karena urbanisasi dan industrialisasi akan membuat pertumbuhan ekonomi
lebih maju dan menjadikan Indonesia negeri dengan tingkat pendapatan menengah
ke atas.
|
1995
|
2000
|
2005
|
2010
|
2050
|
|
|
Populasi Rural
(persentase populasi total) |
64
|
58
|
52
|
46
|
33¹
|
|
Populasi Kota
(persentase populasi total) |
36
|
42
|
48
|
54
|
67¹
|
Sumber:
Bank Dunia
¹ Perkiraan PBB
¹ Perkiraan PBB
Oleh karena melesatnya pertambahan penduduk
maka dari itu terpengaruh lah kedalam lingkungan pemunkiman yang padat dan
tidak teratur, menurut saya pemukiman diIndonesia beragam tipe, dari pemukiman
padat penduduk yang tiap rumah tiap rumah hampir tidak mempunyai halaman
masing-masing, jarak antar tetangga hanya dibatasi oleh tembok saja dan
aksesnya pun harus melalui gang yang sempit , contohnya seperti dijakarta saat
ini yang menurut saya sudah padat sekali. Lalu kemudian pemukiman yang mulai
ramai contohnya di tempat tinggal saya, yang dahulu merupakan tempat yang sepi
dan masih banyak sekali kebun hutan yang pada akhir-akhir ini sudah mulai
padat, dikarenakan sawah – sawah disana banyak yang dialh fungsikan menjadi
kontrakan ataupun rumah-rumah, yang pada akhirnya menimbulkan limbah rumah
tangga yang kotor sehingga sawah disekitarnyapun ikut tercemar lalu pemilik
sawah berpasrah dengan menjual sawahnya untuk dijadikan pemukiman. Dan sampai
saat ini anak – anak jaman sekarang disana sulit sekali untuk menemukan lahan
untuk bermain dan membutuhkan lapangan yang luas. Yang ketiga, pemukiman yang
masih sangat asri contohnya didaerah luar pulau jawa, yang tingkat
kependudukannya masih sepi dan mata pencahariannya masih bercocok tanam,
udaranya sejuk, masih sederhana. Berbeda sekali dengan pemukiman atau
residences perumahan – perumahan elit yang gaya arsitektur modern, yang
bertempat tinggal disana memntingkan keperluan pribadi, atau menjalani hdiup
dengan sendiri- sendiri, tidak ada sosialisasi antar tetangga. Yang terakhir
adalah pemukiman kumuh yang contohnya berada dibantaran sungai atau pinggir rel
kereta api yang membangun rumah seadanya tidak mendapatkan izin dari
pemerintah, dan dilihatnyapun tidak indah sama sekali, ini merupakan PR
tersendiri untuk pemerintah bertindak tegas dan adil untuk masalah ini.
1.3. Pertumbuhan Penduduk dan Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan disuatu daerah difaktorkan
oleh tingkat pertumbuhan penduduknya juga, karena jika pertumbuhan penduduk yang
sangat pesat sulit untuk mengatur dan mengelola siswa –siswa yang ingin
mengenyam pendidikan, maka dari itu pertumbuhan penduduk harus didampingi oleh
pembangunan sekolah – sekolah dan banyaknya tenaga pengajar untuk pendidikan.
Disamping hal itu pemerintah harus sudah matang menyiapkan strategi sistem
pembelajaran yang efektif dan terpusat agar setiap siswa memperoleh standar
pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah. Tenaga pengajar yang professional
sangat diperlukan untuk jalannya belajar mengajar dan tenaga pengajar yang
berpengalaman dalam memulai bimbingan belajar.
1.4. Pertumbuhan Penduduk dan Penyakit yang
Berkaitan Dengan Lingkungan Hidup.
Sudah saya bahas sebelumnya, dengan tingkat
pertumbuhan kependudukan yang tinggi memicu resiko banyaknya terjangkit
penyakit yang ringan sampai yang berat. Mengapa demikian, karena dari
keteledoran manusia itu sendiri yang tidak bertanggung jawab terhadap
lingkungan, misalnya dari hal kecil saja membuang sampah ke sungai menyebabkan
banjir dijakarta dan bermukim dibantaran sungai yang menyebabkan sungai menjadi
sempit, maka terjadilah banjir dan banjir itu membawa banyak sekali penyakit
seperti penyakit kulit, diare, DBD, malaria, dan masih banyak lagi. Belum lagi
terbatasnya fasilitas – fasilitas yang tidak memadai yang kotor menimbulkan
banyak penyakit.
Padatnya penduduk menjadi faktor utama tidak adanya lahan untuk
fasilitas-fasilitas umum seperti taman, tempat bermain anak, dll menyebabkan
anak pada akhir ini lebih suka bermain dirumah (game) dan hp dibandingkan
beramain diluar. Padatnya kotapun jadi topik utama dalam hal ini, gas emisi
pembuangan kendaraan bermotor menyebabkan CO2 meningkat dan limbah industri
mengancam penipisan lapisan ozon yang menyebabkan efek rumah kaca atau radiasi
matahari yang kuat menjadi bencana untuk umat manusia. Penyakit yang timbul
adalah TBC, Paru – paru basah, gangguan saluran pernapasan, infuenza dll.
1.5. Pertumbuhan Penduduk dan Kelaparan
Dari segi ekonomi dan gizi pertambahan
penduduk dan pemerataan dana bantuan pemerintah jika tidak tepat pada sasaran
menyebabkan masalah serius pada masyarakat yang benar-benar membutuhkan dana
bantuan untuk kehidupan sehari-hari maupun balita mereka yang sangat butuh akan
gizi setimbang. Dari mulai banyaknya penduduk dan lahan pekerjaan yang sedikit
menyebabkan pengangguran yang hebat belum lagi masalah ekonomi negara seperti
dollar yang terus meningkat dan terus menerus turunnya nilai tukar rupiah itu mengakibatkan
perusahaan –perusahaan swasta yang terpaksa memcat para pegawainya karena
pemasukan dan pengeluaran tidak stabil, belum lagi tingkat pendidikan yang
rendah menjadi alasan utama masyarakat untuk mencari pekerjaan yang layak untuk
mereka. Dari situlah muncul penyakit baru, mental masyarakat yang bergantung
pada dana bantuan ataupun sosialisasi dari pihak – pihak yang menyalurkan
bantuan, mereka jadi malas dan hanya meminta-minta saja. Berbeda dengan
keluarga dari kalangan tidak mampu yang sudah mempunyai keluaga dan benar
membutuhkan bantuan sedangkan keluarga dan anak-anak mereka sedang mengalami
kelaparan apalagi anaknya yang sedang terjangkit gizi buruk. Hal inipun menjadi
pr tersendiri untuk pemerintah dalam menangani kasus ini.
1.6. Kemiskinan dan Keterbelakangan
Dari topik yang saya bahas diatas tadi,
tingkat pendidikan yang rendah, tingkat pengangguran yang tinggi dan tidak
meratanya dana bantuan ataupun APBN yang sudah direncanakan dan sudah cair
namun dana tersebut menajdi dana siluman dan tidak mencapai target yang dituju.
Hal itu menjadi dasar kemiskinan didunia termasuk diIndonesia yang tingkat
pendapatan perkapitanya digolongkan rendah. Itu membuktikan bahwa sistem
pemerintahan dinegara tersebut mengalami keterbelakangan. Belum lagi pejabat
yang lebih mementingkan urusan pribadinya ketimbang masyarakat padahala mereka
adalah wakil dari rakyat yang secara langsung mempunyai jabatan tetapi sikap
dan perilaku mereka lebih keji dari seorang pemfitnah dan pembunuh. Maka dari
itu mental untuk para pemimpin harus dibentuk lebih dalam lagi agar menjadi
pemimpin yang arif dan taat pada aturan dan perundang-undangan. Tidak bisa
dielakkan lagi kemiskinan menjadi dasar keterbelakangan suatu negara dan
menjadi bukti sistem pemerintahan yang bobrok.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar